Rabu, 24 Oktober 2012

KI AGENG MANGIR

Sejarah Ki Ageng Mangir merupakan hal yang tak dapat terlupakan oleh sebagian besar masyarakat di Kota Gede dan di Dusun Sebaran, Godean. Sebab, keduanya memiliki keterkaitan mengenai kematian Ki Ageng Mangir. Kisah kematian Ki Ageng Mangir disimbolkan dengan adanya beberapa situs kebudayaan berupa makam. 



Makam tersebut sering menjadi tempat ziarah bagi para pengunjung. Mereka berdo’a dan melakukan beberapa ritual, seperti berpuasa, berdo’a di sekitar makam sehari semalam, lalu mengambil tanah pasir di sekitar makam agar hajat yang diinginkan oleh pengunjung dapat terwujud.

2.      SOSOK KI AGENG MANGIR
Ki Ageng Mangir merupakan sosok yang kontroversial. Beliau disebut-sebut sebagai pemberontak Kerajaan Mataram. Sebab, beliau tidak mau tunduk terhadap Kerajaan tersebut.
Nama Ki Ageng Mangir dalam sejarah, ternyata digunakan oleh empat orang. Keempat orang tersebut memiliki keterkaitan dalam hal silsilah keluarga.
Dalam penuturan lisan yang berkembang, ada empat orang dari generasi yang berbeda yang menggunakan nama Ki Ageng Mangir, yaitu Ki Ageng Mangir I, Ki Ageng Mangir II atau Wanabaya I, Ki Ageng Mangir III atau Wanabaya II dan terakhir Ki Ageng Mangir IV atau Wanabaya III, seperti dituturkan oleh Amiluhur Suroso, seseorang yang menyatakan dirinya adalah keturunan Ki Ageng Mangir. Pendapat ini dibuktikan dengan adanya empat makam untuk masing-masing Ki Ageng Mangir tersebut, yaitu : Ki Ageng Mangir I dimakamkan di Alas Ketangga-Ngawi, yang ke II di Paliyan-Gunung Kidul, yang ke III di Makam Sewu-Bantul dan yang ke IV di Sorolaten-Sleman.
Tetapi ada sumber lain yang menegaskan hanya ada dua tokoh yang dikenal sebagai orang yang bergelar Ki Ageng Mangir Wanabaya, yaitu Ki Ageng Mangir Wanabaya I dan Ki Ageng Mangir Wanabaya II. Yang terakhir juga disebut sebagai Ki Ageng Mangir Wanabaya muda. Pendapat kedua dijelaskan oleh Pramudya Ananta Toer dalam bukunya Drama Mangir.
Sementara ada pendapat ke tiga yang dilontarkan oleh Sugeng Pramono dalam bukunya Ki Ageng Mangir, ada tiga Ki Ageng Mangir, yaitu Mangir I, II dan III.
Silsilah Mangir

Menurut Babad Tanah Jawi, Ki Ageng Mangir I atau Raden Jaka Balud atau Ki Ageng Megatsari adalah putra Prabu Brawijaya V atau (Prabu Kertabumi) yaitu raja kerajaan Majapahit pada abad 14-15.
 Ki Ageng Mangir Wanabaya I menurunkan Ki Ageng Mangir Wanabaya II. Mangir I juga mempunyai istri (selir), putri dari Demang Jalegong. Konon dari rahim Rara Jalegong ini lahir seorang anak yang berupa ular/naga (demikian disebut-sebut dalam babad dan cerita tutur). Anak yang kelak terkenal dengan nama Ki Bagus Baruklinting ini mempunyai kesaktian yang luar biasa pada lidahnya sehingga lidahnya dibuat menjadi sebilah mata tombak oleh ayahnya sendiri dan diberi nama Kiai Baru.
Jadi, Ki Bagus Baruklinting adalah saudara tiri dari Mangir II dan paman dari Mangir IV. Mangir IV ini pula yang kelak hidupnya tidak pernah berpisah dengan tombak Kiai Baruklinting.  
Dari tokoh-tokoh tersebut di atas, yang dianggap legendaris oleh masyarakat Jawa adalah Ki Ageng Mangir IV atau Mangir muda (atau Raden Wonoboyo III) karena kematiannya di tangan Panembahan Senopati yang juga mertuanya sendiri.
Tidak heranlah jika hingga kini tiga nama sejarah Jawa, yaitu Panembahan Senopati, Ki Ageng Mangir dan Pembayun, sama-sama tak lekang ditelan jaman. Seakan Mangir adalah lambang tokoh cinta kemerdekaan dan Senopati adalah tokoh sejarah yang hendak menegakkan derajat bangsa Mataram, Mataram Raya yang satu, besar dan jaya. Sementara, Pembayun adalah tokoh romantis yang membawa cinta dan dendam hingga dibawa mati.

3.      PENYEBAB ‘PEMBANGKANGAN’ KI AGENG MANGIR TERHADAP KERAJAAN MATARAM
Alkisah, ketika terjadi pergantian kepemimpinan dari Pajang ke Mataram (1589 M) bumi Mangir berada dalam suasana yang aman tentram dan damai, Ki Ageng Mangir Wonoboyo II telah wafat dalam usia sepuh dan digantikan oleh putranya Ki Ageng Mangir Wonoboyo III atau Ki Ageng Mangir IV. Ki Ageng Mangir IV masih muda belum beristri dan sangat memperhatikan olah seni dan budaya serta merasa bangga memiliki tombak pusaka Kiai Barukuping atau sering disebut Kiai Baruklinting. Konon Sang Senopati Ing Ngalaga Ing Mataram setelah dijunung menggantikan Sultan Pajang tidak mau menempati Istana Pajang melainkan lebih senang menggunakan gelar Panembahan, lengkapnya Panembahan Senopati Ing Ngalaga Ing Mataram.
Panembahan adalah seorang pemimpin, guru dan panutan masyarakat. Ia membimbing masyarakat dengan kebudayaan yang luhur penuh pengabdian, yaitu Memayu Hayuning Buwana. Dikisahkan dalam memperhatikan wilayah kekuasannya di Mataram, Sang Panembahan Senopati telah mendengar bahwa di Bumi Mangir yang tidak jauh dari istana Mataram, Ki Ageng Mangir Wonobo tidak mau tunduk kepada kekuasaan Mataram.
Alasan yang menjadi dasar “pembangkangan” :
  1. Alasan keyakinan keagamaan yaitu ia tidak mau menyembah sesama manusia atau makhluk ciptaan Tuhan, seperti katanya dalam tembang sebagai berikut : Pan Allah kang andarbeni bumi, aku suwita ing Allahutangala, ora ngawula senopati, jer pada titahing Pangeran (BukankaH Allah yang memiliki bumi, aku menghamba kepada Allah ta’ala bukan kepada Senopati, sebab sama-sama makhluk Tuhan)
  2. Ki Ageng Mangir ingin mempertahankan tanah warisan nenek moyangnya karena nenek moyangnya telah membuka tanah dengan susah payah tanpa bantuan orang lain .
  3. Ki Ageng Mangir merasa lebih dahulu berkuasa di Mangir, merasa berada di pihak yang benar dan merasa kuat menghadapi Senopati.
4.      KISAH KI AGENG MANGIR
Alasan-alasan “pembangkangan” Ki Ageng Mangir yang masih muda itu juga telah diketahui oleh Panembahan Senopati dan para penasihatnya yaitu Ki Juru Mertani dan lain-lain.  Sang Panembahan Senopati mencari cara terbaik untuk menundukkan Mangir. Diluar pengalamannya yang pernah dilakukannya ketika menjadi prajurit muda di Pajang, Sang Panembahan Senopati bersama ayahanda Ki Ageng Pemanahan, Ki Penjawi dan Ki Juru Mertani pernah ‘menyelesaikan’ peristiwa pembangkangan yang dilakukan oleh Sang Harya Penangsang, Adipati Jipang Panolan. “Tetapi tidak untuk Mangir”, begitu sang Panembahan Senopati berkata dalam hatinya. Mangir akan diperlakukan dengan cara tersendiri, yang lebih berbudaya dan manusiawi.
Alkisah Putri Pembayun, putri kesayangan Panembahan Senopati telah bersedia menjadi duta menyelesaikan dan menundukkan Ki Ageng Mangir Wonoboyo (Ki Ageng Mangir IV). Para kerabat Mataram telah mengetahui bahwa Ki Ageng Mangir Wonoboyo dan para kakeknya adalah kerabat Majapahit. Kisah demikian telah beredar semenjak Ki Ageng Pemanahan dan Sunan Kalijogo masih hidup. Kekerabatan itu menjadi putus karena jarak yang sangat jauh dan dipisahkan oleh gunung dan hutan serta terputusnya kepentingan dan keyakinan hidup masing-masing. Oleh karena itu, sikap yang menjadi salah paham yaitu menjadi pembalela harus diselesaikan dengan damai. Konon rombongan yang kesenian yang berangkat menuju Mangir terdiri dari para Punggawa terkemuka Negeri Mataram. Adipati Martalaya sebagai Dalang Sandiguna siap memimpin misi rahasia itu dibantu Ki Jayasupanta sebagai penabuh Ki Sandisasmita dan Ki Suradipa sebagai penggendang tak perlu berganti nama. Sedangkan Retna Pembayun yang menjadi waranggana sekaligus anak Ki Dalang dikawal oleh seorang bupati wanita yang bernama Nyai Adirasa. Dikisahkan bahwa rombongan itu membawa peralatan gamelan, wayang dan para wiyaga (penabuh gamelan) yang cukup banyak. Dan perjalanannya telah sampai di Kademangan Mangir.
Alkisah di kademangan Mangir memang sedang merayakan Merti Dusun yaitu menyambut pepanenan hasil pertanian yang diadakan setiap tahun, tidak menyangka ada rombongan kesenian dari luar desa.Tentu saja Ki Ageng dapat menerima kedatangan mereka dengan senang hati.
Tontonan itupun segera digelar sehingga seluruh kademangan Mangir menjadi hingar bingar. Ki Ageng Mangir Wonoboyo IV yang masih perjaka terpikat akan kecantikan Sang Waranggana yang duduk dibelakang Ki Dalang Sandiguna.
Selesai mendalang, mereka dijamu di dalam rumah Ki Ageng. Rumah itu memang sepi karena memang KI Ageng belum berkeluarga. Belum ada wanita yang mampu menundukkan hatinya. Tetapi ketika melihat Sang Waranggana yang konon Putri Ki Dalang Sandiguna, hatinya berbicara lain dan sepertinya mulai tumbuh benih-benih cinta. Ki Ageng Mangir terkena panah asmara dan ingin melamar Sang Ayu untuk menjadi istrinya.
Konon keduanya telah direstui untuk menjadi suami istri. Retno Pembayun dengan sepenuh hati telah rela untuk menjadi Nyai Ageng Mangir Wonoboyo. Dengan pernikahan itu sesungguhnya bumi Mangir dikatakan telah menjadi bagian dari Istana Mataram.
Tetapi kiranya tak semudah itu untuk menundukkan sebuah keyakinan. Ki Ageng Mangir Wonoboyo tidak mengira bahwa istrinya itu adalah Sekar Kedaton Kerajaan Mataram. Ia tidak pernah tunduk kepada Panembahan Senopati, namun kenapa bisa menjadi menantu penguasa Mataram itu? Konon Ki Ageng masih bertanya-tanya dengan penuh keraguan, namun toh pupus dengan keyakinan bahwa semuanya itu telah menjadi suratan takdir Yang Maha Kuasa.
Benih-benih cinta tetap mekar dan bersemi di hari keduanya. Tetapi untuk menghadapkan sembah kepada mertuanya di Mataram? Harga diri dan pesan wanti-wanti kakek moyangnya selalu saja mengganggunya. Kemandirian Desa Mangir harus diteruskan tanpa mengekor kepada kekuasaan lain. Tidak ada ketundukan tanpa kesadaran dan keikhlasan. Konon Ki Ageng Mangir benar-benar berada di simpang jalan.
Alkisah, Nyai Ageng Mangir alias Retno Pembayun, yang ternyata seorang Putri Kedaton tak habis-habisnya merayu sang suami untuk segera menghadap ayahanda di Mataram. Ki Ageng berpikir sungguh-sungguh untuk mengambil sikap yang terbaik. Apakah maksud sesungguhnya dari seorang Putri Panembahan Senopati sehingga mau menjadi Nyai Ageng Mangir? Sehingga benih cinta darinya sudah bersemi di dalam kandungan Sang Putri yang konon semestinya masih bermanja-manja di Istana Keputren? Demikianlah, suratan takdir sudah terjadi. Ki Ageng Mangir Wonoboyo muda harus bertanggungjawab menghadapi kenyataan yang terjadi. Ia telah siap menghadapi kenyataan yang terjadi. Ia telah siap untuk menghadapi mertuanya Sang Panembahan Senopati di Mataram.
Tetapi kewibawaan Mangir tak boleh sirna. Para pemuda Mangir harus ikut serta dan tombak pusaka Kiai Barukuping harus dibawa. Ia pun akan menghadap Panembahan Senopati sebagai seorang Ksatria yang memiliki harga diri dan martabat yang sama. Bukankah di Bumi Mangir sudah tidak ada lagi sembah-menyembah dan kasta-kasta?
Selanjutnya Ki Ageng Mangir menuruti permintaan istrinya untuk segera pergi ke istana. Konon para kerabat Kraton Mataram telah mempersiapkan upacara penyambutan yang lazimnya disebut “ngunduh mantu” dengan tatacara yang meriah. Perjalanan Ki Ageng dan Nyai Ageng Mangir menuju Mataram diikuti para kerabat Mangir yang cukup banyak. Dari Mangir perjalanan menuju ke timur dan utara sampai di kraton Mataram (Sekarang Kotagedhe) disaksikan orang banyak di sepanjang jalan. Ternyata, sampai di Kraton Mataram semuanya telah diatur, yaitu para pengiring dihentikan dan dijamu makan-makanan di bangsal Pecaosan. Selanjutnya hanya kedua mempelai yang boleh masuk ke istana. Pada saat itulah di Bangsal Pasewakan diberitakan terjadi musibah di tangan Panembahan Senopati mertuanya sendiri. Ia dibunuh oleh Senopati dengan cara dibenturkan kepala Ki Ageng Mangir ke lantai. Sehingga, makam Ki Ageng Mangir yang berada di Kotagede memiliki sebuah petilasan berupa batu yang “legok” yang dipercaya sebagai bekas kepala Ki Ageng Mangir yang dibenturkan.


5.      LETAK MAKAM KI AGENG MANGIR
Kisah kehidupan dan kematian Ki Ageng Mangir dapat terekam melalui beberapa situs makam dan dari sejarah lisan yang diceritakan oleh masyarakat Yogyakarta. Situs makam tersebut menjadi kontroversi banyak orang. Sebab, terdapat dua makam Ki Ageng Mangir yang terletak di wilayah yang berbeda.
Makam Mangir di Kotagede dibuat sedemikian rupa sehingga separo nisannya berada di dalam tembok makam dan separonya lagi berada di luar tembok makam. Hal ini dimaksudkan bahwa separo tubuh Mangir adalah menantu Senapati atau anggota dinasti Mataram, akan tetapi separonya lagi adalah musuh Mataram. Namun, beberapa masyarakat menyangsikan kebenaran makam tersebut. Pemakaman di makam Kotagede itu hanyalah pemakaman politis. Sehingga, peristiwa atas pembunuhan putra menantu sendiri oleh Raja Mataram itu kelihatan sah.
 Versi lain lagi menyatakan bahwa makam Mangir berada di Dusun Sebaran, Godean, Sleman. Kebanyakan trah Mangir lebih meyakini bahwa makam Mangir adalah yang terletak di Sebaran ini. Kemungkinan keyakinan ini didasarkan pada suatu versi yang menyatakan bahwa setelah Mangir berhasil dibunuh jasadnya dikeluarkan dari Kraton Mataram Kotagede melalui pintu belakang dengan dinaikkan pada gerobak/pedati. Orang yang ditugaskan untuk membawa jasad Mangir ini adalah Demang Saralati. Demang Saralati ini diyakini menjadi cikal bakal Dusun Saralaten yang keletakan wilayahnya berada di sisi timur Dusun Sebaran. Disebelah makam ada batu nisan panjang sebagai makam kuda tunggangan Mangir yang mencari tuannya.

6.      PENEMUAN MAKAM
Diceritakan oleh Sugeng (berdasar cerita dari bapaknya) bahwa makam yang dipercaya sebagai makam Mangir tersebut ditemukan tahun 1971. Penemunya adalah R. Warno Pramujo, warga Gamelan Lor Yogyakarta. Pada saat ditemukan, makam itu hanya berupa gundukan tanah dengan tumpukan batu yang di sekelilingnya tumbuh ilalang yang tinggi dan ditutupi rimbunnya daun pohon bambu.
Tapi tidak diketahui juga secara pasti bagaimana cara membuktikan bahwa itu makam Ki Ageng Mangir. “Memang disekitar makam Mangir itu juga ada beberapa makam tua dengan nisan kuno, tapi warga disini juga tidak ada yang tahu itu makam siapa?”, lanjut Sugeng.
Sedang ikhwal penemuan makam itu, Budi Sugeng sendiri juga tidak tahu secara pasti. “Waktu itu saya masih kecil. Saya tahunya juga dari bapak”, terang karyawan swasta ini. Dikisahkan bahwa R. Warno adalah seorang yang gemar laku batin. Ritualnya ditempuh dengan jalan kaki ke makam-makam keramat. Pada waktu beliau sedang tirakat di sebuah makam tua yang dikatakan masih trah Majapahit, beliau mendapat bisikan. Intinya agar mencari makam Ki Ageng Mangir. Tidak dikatakan dimana tempatnya, hanya diberi petunjuk tentang arah makam tersebut.
Setelah makam itu ditemukan, selanjutnya oleh R. Warno Pramujo makam itu dibangun. Makam yang dahulunya penuh ilalang, sejak 17 Maret 1972 (1 Sapar 1904) menjadi makam yang cukup apik. Sedang makam yang ada disekitarnya tetap dibiarkan apa adanya hingga sekarang.
Bangunan makam terdiri dari 2 ruang. Ruang utama terdapat makam Mangir, sedang samping timurnya yang hanya terhalang tembok adalah makam R. Warno Pramujo (penemu sekaligus sesepuh makam yang pertama) yang meninggal tahun 1983.